Terjun dalam usaha batik tulis dengan konsumen yang relatif terbatas mengharuskan “pemain” baru lebih jeli. Selain memiliki kekhasan dalam produk, sehingga dilirik konsumen, mereka juga mesti pandai-pandai membidik pangsa pasar yang terbatas itu.
Persyaratan seperti itulah yang dijadikan pedoman Putu Sulistiani Prabowo (48) ketika merintis usaha batik tulis di Surabaya. Sejak awal, corak dan warna batik buatannya tak sesuai “pakem” batik. Dia mengarahkan produknya sesuai selera kaum muda.
Meski diakuinya, jiwa orang muda yang cenderung menginginkan sesuatu yang baru menuntut kreativitas terus-menerus. Orang muda akan dengan cepat meninggalkan corak dan warna batik yang dirasakan stagnan.
“Supaya kaum muda tertarik memakai batik, saya harus menampilkan motif dan warna yang baru. Selain supaya berbeda dengan corak dan warna batik pada umumnya, juga agar tidak terkesan monoton dan kuno,” kata Sulis, nama panggilan perempuan yang membuka Galeri Batik Dewi Saraswati di Jalan Jemursari Utara, Surabaya, itu.
Dia ingin anak muda mau dan bangga memakai batik. Apalagi, menurut Sulis, beberapa kali dia memperhatikan anak muda di negeri tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, ternyata suka memakai batik. Padahal, dari sisi kualitas, termasuk corak dan warna, batik Indonesia justru lebih kaya. Sayang kalau kalangan muda tak tertarik memakainya.
“Alasan mereka sebenarnya sepele, pakai batik dianggap kurang mengikuti mode, tidak gaul. Padahal, batik cocok untuk semua kalangan dan usia,” kata Sulis yang konsumennya didominasi perempuan muda.
Keprihatinan yang dirasakannya itu mendorong Sulis menggeluti usaha batik tulis. Dia berusaha menciptakan motif dan warna batik yang bisa menarik kaum muda, seperti corak bunga kembang sepatu.
Dia juga memberi keleluasaan kepada konsumen untuk memilih corak sendiri, antara lain dengan menyediakan buku-buku tentang corak dan warna.
“Saya tidak takut membuat motif batik apa saja, demi agar batik tidak ditinggalkan konsumen,” cetusnya.
Jenuh menjadi karyawan
Terjun dalam usaha batik tulis dilakukan Sulis setelah ia bekerja selama 16 tahun pada perusahaan kosmetik. Dia berhenti menjadi karyawan karena merasa jenuh. Sulis lalu mengundurkan diri, dan melihat batik tulis sebagai peluang usaha.
Ibu dua anak ini lalu menimba ilmu membatik dari beberapa pembatik di Surabaya dan Yogyakarta. Kegemaran melukis sejak kecil membuatnya tak menemui kesulitan berarti dalam membatik. Dia juga mengikuti pelatihan pewarnaan kain batik dengan pewarna zat kimia maupun bahan organik.
Bahan alami yang dipakai untuk mewarnai batik tulis karyanya antara lain secang (warna merah dan oranye), jalawe menghasilkan warna kuning, indigo untuk warna biru, daun jati untuk warna merah kecoklatan, serta kulit kayu tegeran dan kayu mahoni untuk warna sogan—warna khas batik klasik yang umumnya cenderung gelap.
Dia juga bereksperimen untuk mencari warna alami baru. Berbagai jenis kulit pohon, daun, akar, biji, dan buah terus diburunya untuk mendapatkan warna kain batik yang tak monoton. Pasalnya, warna merupakan faktor utama pada kain batik. Perhatian orang kepada batik makin besar bila pewarnaan kain sempurna. Warna juga dapat memberi kesan anggun pada pemakai batik tulis.
“Saya membuat batik eksklusif yang coraknya bisa klasik tetapi diberi sentuhan modern, terutama pada warnanya. Ini agar kalangan muda tertarik pakai kain batik,” ujar Sulis yang selalu memadukan warna lembut dengan warna yang tengah tren sebagai upaya agar konsumen mudah mendapatkan padanan untuk kebaya maupun blusnya. Misalnya, memadukan kain batik dengan kebaya encim berlengan tiga perempat, blus bordir, bahkan blazer.
“Jadi, saya enggak hanya membuat kain batik, sarung, dan selendang, tetapi juga paduan untuk atasannya,” kata Sulis, alumnus Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Surabaya, yang tengah menggarap corak batik khas suroboyo berupa corak daun semanggi. Sebelumnya, dia membuat corak sapujagat. Motif tersebut menuntut kerja ekstra karena dalam satu kain terdapat delapan motif, dan proses pewarnaannya pun lebih rumit.
Untuk bahan baku batiknya, Sulis memilih antara lain sutra alat tenun bukan mesin, sutra bermotif, katun, serat kayu, dan serat pelepah pisang.
Untuk menghasilkan kain batik dengan corak yang selalu berubah-ubah, pembatik harus bekerja ekstra. Apalagi motif baru karya Sulis cenderung menuntut penggarapan yang bisa menyelaraskan berbagai motif seperti beras kutah, teripang, serta cecek.
“Ketiga corak ini membutuhkan proses pewarnaan yang berulang kali karena memiliki beberapa warna dalam satu kain,” ujar Sulis yang senang berburu barang-barang antik di Pekalongan, Semarang, dan Solo ini.
Untuk memudahkan konsumen, Sulis juga menyediakan produk paket. Dalam paket kain batik tulisnya sudah dipadankan sekaligus kain, selendang, sampai sandal dan dompet. Meski harga produk paket relatif mahal, namun termasuk digemari konsumen. Harga paket produk Sulis sekitar Rp 1,3 juta. Sedangkan harga kain batik sekitar Rp 450.000, untuk setelan sarung dan selendang dari Rp 650.000 sampai Rp 2 juta.
“Harga batik tulis memang mahal, karena pengerjaannya pun lama. Untuk satu lembar kain batik minimal tiga minggu. Semakin rumit motif dan jumlah warna yang dipakai, akan makin lama pembuatannya,” ujar Sulis yang dibantu 10 pekerja. Sementara untuk pembuatan sandal, dia punya mitra di Sidoarjo dan Surabaya.
Sumber : (Agnes Swetta Pandia) Harian Kompas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar